Oleh :
Nurlaela Hamidah & Ace Somantri
Manusia diciptakan semua akan dijamin kehidupannya termasuk dalam hal pasangannya. Seorang laki-laki sudah disiapkan pasangannya seorang wanita, dan sebaliknya seorang wanita sudah dipersiapkan pasangannya seorang laki-laki. Islam pun menjelaskan bahwa mahluk itu diciptakan berpasangan terdapat dalam al Qur’an surat An-Naba ayat 8, “Kami menciptakan kamu berpasangan”. Hanya dalam realita kehidupan membutuhkan upaya untuk mendapatkan pasangan yang terbaik, agar dalam menjalaninya penuh dengan harmoni. Panjang jalannya, lika liku proses menjalaninya hingga tak sedikit tak mampu bertahan mengarungi luasnya samudera pernikahan. Bagi siapapun mereka yang masih bertahan dengan pasangannya harus benar-benar disyukuri penuh ikhlas, hal demikian karena menjadi salah satu bagian kenikmatan tak terhingga. Sehingga tidak ada alasan tidak mensyukuri, apalagi mengingkari atau mengkufuri pemberian nikmat-Nya, hal itu sombong dan sangat keterlaluan.
Usia senja, semua mahluk apapun dimuka bumi akan mengalaminya secara evolusioner metamorfosis. Karena pada fakta realitanya mahluk mengalami awal dan dipastikan akan mengalami akhir, sehingga dari jarak awal hingga akhir ada rentang masa dan waktu yang terlewati, baik pendek maupun panjang. Bagi pasangan yang diberikan usia panjang dan tetap dengan pasangannya, hal demikian tidak sekedar kenikmatan dirinya melainkan menjadi kenikmatan yang dapat dirasakan oleh orang tua masing-masing dari pasangan dan juga kenikmatan bagi anak-anknya yang telah dilahirkan. Begitulah kira-kira potret sesuatu yang membahagiakan dalam lingkungan keluarga, pusatnya ada dalam harmoni pasangan yang disebut istilahnya dalam ajaran Islam pasangan yang mencapai predikat keluarga sakinah mawaddah dan rahmah. Mereka akan membangun keluarga tangguh, handal, hebat dan menjadi teladan yang membanggakan. Merawat dan memelihara keutuhan rumah tangga bukan perkara mudah, melainkan suatu entitas sosial kecil memiliki dinamika yang senantiasa memberi kejutan untuk mendewasakan anggota dalam keluarga.
Diusia senja, menjelang akhir-akhir hari tutup usia manusia. Hal lumrah dan biasa, sirkulasi kehidupan dalam rentang masa yang terlewati silih berganti dari generasi ke generasi. Turun temurun berganti generasi, entah turunan yang keberapa kita saat ini dari sejak Adam alaihi salam hingga saat ini dalam usia sama-sama sadari dan terus berganti dan sampai tertutupnya pintu taubat. Bahagia, sedih, kecewa dan kesal menghiasi hari-hari bersama pasangan. Berbeda pendapat dan perselisihan pandangan menjadi kemasan dalam dinamika rumah tangga. Namun, ada kata yang romantis nan indah terucap dalam lubuk hati yang dalam ” Bagaimanapun jalannya, ku tempuh asal itu tetap bersamamu ” sesekali ditambah kata dan kalimat yang memotivasi agar tetap hidup bersama ” suka dan duka dihadapi bersama, menjaga dan merawat anak-anak hingga mereka melanjutkan generasi berikutnya dengan generasi yang hebat dan kuat” . Usia manusia bukan sekedar sambungan angka, namun juga usia masa yang membuat sikap diri tumbuh berkembang menjadi dewasa, arif dan bijaksana.
Lahirnya generasi, sirkulasi fisik dan psikis orang tua lanjut usia adalah sunnatullah alami yang natural. Diawali usia bayi masa kelahiran hingga tumbuh kembang menjadi anak usia belia, dalam pisik dan psikis yang masih lemah kurang berdaya akan berangsur menjadi dewasa, kuat dan berdaya. Ada sebuah penejalasan dalam Qur’an Surat Yasiin ayat 68 menegaskan bahwa ” Siapa yang kami panjangkan umurnya, niscaya kami balik proses penciptaanya (dari kuat menuju lemah). Maka, apakah mereka tidak mengerti ?” Dari teks nash tersebut ada pesan moral yang harus difahami umat Islam, siapapun mereka akan melewati dan mengalami hal yang sama. Tafsir wajiz menjelaskan, “Ingatlah wahai anak cucu Adam, barang siapa Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan dia kepada awal kejadiannya. Pada saat itu dia kembali lemah dan kurang akal, layaknya anak kecil, sehingga tidak kuat lagi ibadah yang berat, Maka, mengapa mereka tidak mengerti dan memanfaatkan kesempatan selagi muda? “. Sesegera mungkin kepada setiap umat muslim untuk memanfaatkan masa dalam waktu untuk berbuat ibadah-ibadah dan kebaikan lainnya.
Secara psikologis, dari hasil studi dan riset umur manusia pada lanjut usia ada kecemderungan terjadi penurunan kondisi raga dan jiwa. Karakteristinya, ada beberapa indikasi yang menjadikan tanda-tanda diantaranya : 1) Ada perbedaan individu dalam efek ketuaan; 2). Stereotif yang negatif seperti cacat, sakit, pelupa atau pikun, fisik tidak menarik, kaku, membosankan. (Petter, at al. 2020); berikutnya 3). Memiliki komunitas kelompok minoritas; 4). Ada perubahan-perubahan peran dan penyesuaian yang tidak baik; dan yang ke 5). Ada keinginan peremajaan diri. Faktanya, dari semua indikasi tersebut secara nyata dipastikan mengalami dan melewatinya. Hanya kadang-kadang ada yang tidak menyadari bahwa dirinya mengalami hal tersebut. Bagi yang menyadari biasanya akan ada upaya untuk beradaptasi dengan tugas perkembangannnya. Sementara yang lanjut usia tidak menyadari dirinya sudah masuk akhir usia, disarankan kepada anggota keluarga yang lain memberikan pendekatan khusus untuk memberikan penyadaran yang lebih bijak.
Sebagaimana dijelaskan diatas dari karateristik masa akhir yang muncul diusia lanjut, ada beberapa saran-saran tugas perkembangan bagi mereka yaitu menyesuaikan diri terhadap kekuatan fisik dan kesehatan; Masa pensiun dan penurunan penghasilan atau pendapatan keluarga; Kematian pasangan; Hubungan dengan kelompok seusianya; Pengaturan fisik yang memuaskan; dan menyesuaikan peran-peran sosial secara luwes dan fleksibel. Penyesuaian tersebut dalam rangka proses stabilisasi jiwa dan raga selama masa rentang usia lanjut agar lebih pas dan tepat dalam memgikuti ritme kegiatan sehari-hari tanpa ada sesuatu yang membuat diri tidak berkenan atau membuat orang lain tidak nyaman. Sehingga kehadirannya, sebagai orang tua benar-benar menjadi teladan panutan yang arif dan bijaksana, saat menjelang kematian pun tidak banyak merepotkan anggota keluarga lainnya, sekalipun ada yang harus dibantu masih pada tahap wajar, lumrah dan itupun hanya sesekali.
Kondisi lanjut usia, pada umumnya secara psikologis selain karakteristik yang muncul dalam sikap dan prilaku. Siapapun anggota keluarganya, baik itu anak-anak maupun cucunya yang sudah dewasa harus mengerti dan memahami orang tua lanjut usia. Paling tidak, ada tiga hal pokok perubahan pada lanjut usia yang nampak yaitu terjadinya perubahan kognitif dengan menurunnya kekuatan memori, kecepatan berpikir, dan kemampuan belajar seiring bertambah usia. Kemudian perubahan emosional, dengan menunjukan rasa kesepian, kehilangan dan rasa kecemasan. Bahkan, kondisi umum lainnya mengalami depresi hingga mencapai 10 % warga lansia Indonesia. Selanjutnya perubahan sosial yang berdampak pada sikap kepercayaan diri akibat pensiun, kehilangan pasangan dan isolasi sosial yang mendatangkan kesejahteraan psikologis semakin berkurang. Dengan berbagai dinamika dan kondisi sosial emosional masa lanjut usia, bagaimana treatment saat senja lanjut usia masa-masa akhir kehidupan, sehingga tetap bahagia dan sejahtera psikologisnya.
Ada beberapa kiat yang ditawarkan berdasarkan kajian psikologis, pertama tetap aktif jasad fisik dengan asupan nutrisi bergizi dan olahraga yang teratur. Kedua, menjaga kesehatan kognitif dengan menstimulasi nalar intelektual dengan banyak membaca al Qur’an dan buku-buku bermanfaat serta membaca informasi teraktual dan terupdate. Ketiga, tetap membangun hubungan relasi sosial dengan beronteraksi sesuai kebutuhan komunikasi, interaksi dan partisipasi sosial dengan seusianya tergabung dalam komunitas tertentu. Keempat, menemukan makna hidup dengan berupaya keras tetap berbuat kebaikan, memainkan alat musik atau dunia seni lainnya serta sedikit mencatat memoar hidup dengan sederhana. Kelima, mengelola stres dengan baik melalui kegiatan meditasi islami, healing sederhana, dan konsultasi psikologis. Keenam, Meraih keberkahan dengan memupuk nilai hidup lebih betmakna dan bermanfaat bagi orang banyak, berderma pada sesama dan selalu berupaya meningkatkan kedekatan diri kepada Maha Pencipta dengan rajin ibadah ta’abudi. Semoga diusia senja, siapapun kita dapat meraih bahagia dunia akhirat. Wallahu’alam.
Bandung, April 2025











