Reportasemu.com, Bandung — Pelatihan Islamic Technopreneurship Agropreneur Organik digelar di Universitas Muhammadiyah Bandung, Sabtu (18/10/2025). Kegiatan ini diisi dengan praktik pertanian organik sekaligus pembahasan strategi membangun bisnis berkelanjutan yang berbasis nilai-nilai Islam.
Praktik penanaman dalam pelatihan ini dilakukan bersama JATAM (Jaringan Tani Mahasiswa). Kolaborasi tersebut dilakukan karena proses pengamalan pertanian organik dinilai tidak cukup hanya dipahami secara teori di dalam kelas, tetapi perlu diterapkan langsung melalui praktik di lapangan.
Sejumlah mahasiswa Universitas Muhammadiyah Bandung, termasuk mahasiswa Ilmu Komunikasi angkatan 23(B) kelompok 2, terlibat langsung dalam kegiatan penanaman ubi dan pakcoy.
Ibu Salwani S.Pd., M.M. menjelaskan bahwa media tanam menggunakan karung dipilih karena dinilai lebih efektif dan mudah diterapkan dibandingkan tanaman yang dibudidayakan di rumah hijau (greenhouse). Metode ini tidak memerlukan pengaturan suhu khusus serta lebih sederhana dalam perawatan, sehingga cocok diterapkan di lingkungan kampus maupun secara mandiri.
Ia menambahkan bahwa seluruh proses perawatan tanaman dilakukan tanpa menggunakan bahan kimia dan dapat dikatakan 90% bersifat organik. Penyiraman dilakukan menggunakan air biasa dan untuk nutrisinya menggunakan air cucian beras, sementara pengendalian hama memanfaatkan pestisida nabati berbahan alami seperti campuran kulit bawang, bawang, dan cabai. Pendekatan ini dinilai ramah lingkungan serta mudah ditiru oleh mahasiswa maupun masyarakat.
Pembina sekaligus pelatih, Deden Lesmana ahli Agrikultur, turut memberikan pendampingan mulai dari tahap input hingga proses dan hasil. Pada tahap awal, peserta dibekali pemahaman mengenai pemilihan bibit dan kondisi tanah yang sesuai. Proses perawatan dilakukan secara rutin, seperti penyiraman dua kali sehari serta pemberian vitamin berupa mikroba lokal (MOL). Apabila salah satu tahapan terlewat, risiko gagal panen dapat terjadi.
Manfaat kegiatan ini banyak dirasakan oleh mahasiswa karena metode pertanian organik yang digunakan dinilai sederhana dan mudah dipraktikkan. Sementara hasil panen masih dimanfaatkan dan dipasarkan di lingkungan internal, dengan penyaluran ke masyarakat yang masih dalam tahap pengembangan.
Pelatihan ini juga mengangkat isu ketahanan pangan dan manajemen pertanian sebagai bagian dari praktik agropreneur organik. Pendekatan tersebut sejalan dengan semangat Islam Berkemajuan yang mendorong umat untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan kemandirian di berbagai sektor, termasuk pertanian.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman praktik pertanian organik, tetapi juga membangun kesadaran akan pentingnya pengelolaan sumber daya secara berkelanjutan.







